Saatnya Indonesia–India Pererat Hubungan Saling Menguntungkan

FOX News
3 Jul 2026 03:28
Bisnis 0 6
9 menit membaca

Oleh Primus Dorimulu*

Jakarta — Hubungan Indonesia dan India telah melintasi ribuan tahun sejarah. Kini, saatnya kedua negara tidak hanya mewarisi masa lalu yang agung, tetapi bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik, yang membuat kedua negara memiliki pengaruh signifikan di dunia. Kunjungan Perdana Menteri India Shri Narendra Modi ke Indonesia pada 7 Juli 2026 kiranya menjadi titik balik lahirnya kemitraan strategis baru yang saling menguntungkan.

Kedatangan Perdana Menteri India Shri Narendra Modi sebagai tamu resmi Presiden Prabowo Subianto bukanlah kunjungan kenegaraan biasa. Kunjungan ini merupakan kunjungan balasan atas kehadiran Presiden Prabowo sebagai tamu kehormatan pada peringatan Hari Republik India (Republic Day) tanggal 26 Januari 2024. Lebih dari itu, pertemuan kedua pemimpin menjadi momentum penting untuk membawa hubungan Indonesia–India memasuki babak baru: dari hubungan historis menuju kemitraan strategis abad ke-21.

Hubungan Indonesia dan India sesungguhnya adalah hubungan peradaban. Jauh sebelum lahirnya negara modern, Nusantara dan anak benua India telah dihubungkan oleh jalur perdagangan Samudra Hindia yang menjadikan kedua kawasan saling bertukar komoditas, agama, bahasa, ilmu pengetahuan, seni, arsitektur, dan filsafat. Pengaruh Hindu dan Buddha dari India kemudian berakar kuat di Nusantara, melahirkan mahakarya seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, wayang, kisah Ramayana dan Mahabharata, serta berbagai nilai budaya yang hingga kini menjadi bagian dari identitas bangsa Indonesia. Hubungan tersebut bukan sekadar hubungan antarnegara, melainkan hubungan dua peradaban besar Asia.

Namun, sejarah tidak boleh hanya dikenang. Sejarah harus menjadi fondasi untuk membangun masa depan. Kedua negara memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi negara yang diperhitungkan dunia. Kuncinya adalah hubungan saling memahami dan kerjasama saling menguntungkan.

Jika masa lalu Indonesia dan India ditandai oleh pertukaran rempah-rempah, agama, dan kebudayaan, maka masa depan kedua negara akan ditentukan oleh teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, keamanan siber, industri semikonduktor, pertahanan, energi bersih, dan kedaulatan data. Pergeseran inilah yang menjadikan hubungan Indonesia– India memasuki transformasi besar: dari warisan peradaban menuju kemitraan inovasi.

Transformasi tersebut semakin relevan ketika dunia sedang mengalami perubahan geopolitik terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin. Rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah mengubah peta perdagangan, investasi, rantai pasok global, hingga perkembangan teknologi tinggi. Negara-negara menengah seperti Indonesia dan India dituntut memiliki strategic foresight —kemampuan melihat jauh ke depan— agar tidak sekadar menjadi pasar atau objek persaingan kekuatan besar, melainkan menjadi pelaku utama yang ikut membentuk tatanan ekonomi dunia yang baru Dalam konteks itulah, hubungan Indonesia dan India memiliki nilai strategis yang semakin besar.

India saat ini merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. Menurut proyeksi International Monetary Fund (IMF) dan World Bank, India diperkirakan akan menjadi ekonomi terbesar ketiga dunia dalam dekade mendatang. Dengan jumlah penduduk 1,4 miliar, populasi terbesar di dunia, bonus demografi yang kuat, industri teknologi informasi yang matang, serta keberhasilan membangun Digital Public Infrastructure melalui identitas digital, sistem pembayaran digital, dan jaringan perdagangan digital, India telah menjadi salah satu pusat inovasi global.

Sementara itu, Indonesia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan sumber daya alam strategis, populasi lebih dari 285 juta jiwa, posisi geografis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, serta potensi besar dalam hilirisasi mineral kritis, transisi energi, dan ekonomi digital. Berbagai proyeksi dari OECD, PwC, dan Goldman Sachs menunjukkan bahwa Indonesia berpeluang menjadi salah satu ekonomi terbesar dunia pada pertengahan abad ini apabila berhasil meningkatkan produktivitas, kualitas sumber daya manusia, dan kemampuan teknologi.

Artinya, Indonesia dan India sesungguhnya memiliki karakter yang saling melengkapi. Sayangnya, hubungan ekonomi kedua negara masih belum mencerminkan potensi tersebut. Dalam perdagangan, Indonesia memang menikmati surplus yang cukup besar terhadap India. Ekspor Indonesia masih didominasi batu bara, minyak sawit, karet, mineral, serta berbagai komoditas berbasis sumber daya alam. Sebaliknya, India mengekspor produk farmasi, mesin, kendaraan, teknologi informasi, jasa digital, dan berbagai produk manufaktur bernilai tambah tinggi.

Surplus perdagangan tentu merupakan kabar baik bagi Indonesia. Namun, dalam perspektif ekonomi pembangunan, surplus yang bertumpu pada ekspor komoditas primer belum cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara maju. Pandangan ini sejalan dengan pemikiran ekonom pembangunan seperti Ha-Joon Chang dari Korea Selatan dan Alice H. Amsden dari Amerika Serikat.

Keduanya menunjukkan bahwa hampir semua negara yang berhasil melakukan catch-up terhadap negara maju —mulai dari Jepang, Korea Selatan, hingga Taiwan— tidak hanya mengandalkan perdagangan bebas, tetapi juga membangun industri nasional melalui kebijakan negara yang terarah, investasi pada teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta transfer pengetahuan. Menurut mereka, kemajuan ekonomi tidak lahir dari ekspor bahan mentah, melainkan dari kemampuan menciptakan produk bernilai tambah tinggi dan menguasai teknologi.

Karena itu, hubungan ekonomi Indonesia–India sudah saatnya memasuki babak baru. Fokus kerja sama tidak lagi hanya meningkatkan volume perdagangan, tetapi juga mendorong investasi dua arah, transfer teknologi, riset bersama, pengembangan industri manufaktur, ekonomi digital, kecerdasan buatan, semikonduktor, farmasi, serta pembangunan ekosistem inovasi. Dengan demikian, hubungan kedua negara tidak hanya menghasilkan surplus perdagangan, tetapi juga mempercepat transformasi ekonomi Indonesia menuju negara industri yang lebih maju dan berdaya saing global.

Ketimpangan juga masih terlihat dalam bidang investasi. Data menunjukkan bahwa investasi India di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan investasi Indonesia di India. Pada 2025, investasi India di Indonesia mencapai sekitar US$237,6 juta, sedangkan investasi Indonesia di India hanya sekitar US$9,8 juta. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa hubungan investasi kedua negara masih memiliki ruang yang sangat besar untuk dikembangkan secara lebih seimbang.

BRICS

Momentum tersebut semakin penting karena Indonesia dan India kini berada dalam satu forum strategis yang sama, yakni BRICS. Indonesia resmi menjadi anggota penuh BRICS pada 6 Januari 2025 sebagai anggota ke-11. Bersama India, Indonesia juga merupakan anggota World Trade Organization (WTO) dan Group of Twenty (G20). Indonesia memang berbeda dengan India karena juga menjadi anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) dan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). Sebaliknya, India memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dalam BRICS dan berbagai forum Global South.

Keanggotaan bersama di BRICS seharusnya tidak dipandang sebagai simbol politik semata. BRICS merupakan wadah kerja sama Selatan-Selatan yang bertujuan memperkuat pembangunan, perdagangan, investasi, inovasi, serta reformasi tata kelola ekonomi global agar lebih inklusif. Indonesia masuk BRICS bukan untuk menjauh dari Amerika Serikat ataupun Eropa, melainkan untuk memperluas ruang diplomasi dan pilihan ekonomi. Politik luar negeri Indonesia tetap berlandaskan prinsip bebas dan aktif: bersahabat dengan semua negara dan tidak menjadi bagian dari blok kekuatan mana pun.

Dalam BRICS sendiri, konfigurasi kekuatan nasional menunjukkan dinamika yang menarik. Jika diukur berdasarkan kekuatan nasional secara menyeluruh, tiga negara paling berpengaruh adalah Tiongkok, India, dan Rusia. Tiongkok unggul dalam ekonomi, teknologi, industri, dan kapasitas manufaktur. India unggul dalam pertumbuhan ekonomi, bonus demografi, inovasi digital, serta prospek jangka panjang. Rusia tetap menjadi kekuatan utama dalam bidang militer, energi, dan strategi keamanan. Dalam diplomasi internasasional, Tiongkok, India, Rusia, dan Brasil memainkan peran paling menonjol, sementara dalam sektor energi, Arab Saudi, Rusia, Iran, dan Uni Emirat Arab menjadi aktor utama.

Indonesia memang belum termasuk tiga besar dalam kekuatan ekonomi global, teknologi, ataupun diplomasi. Namun, Indonesia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak negara lain: posisi geopolitik yang sangat strategis, demokrasi yang relatif stabil, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, cadangan mineral kritis yang sangat besar, serta kemampuan memainkan peran sebagai middle power yang menjembatani berbagai kepentingan internasional.

Kemitraan Strategis

Mengapa Indonesia dan India perlu mempererat kemitraan strategis? Jawabannya dapat dijelaskan melalui pemikiran dua tokoh besar hubungan internasional, Hans J. Morgenthau dan Joseph S. Nye Jr. Morgenthau, pelopor teori realisme dalam hubungan internasional, menjelaskan bahwa setiap negara pada dasarnya akan memperjuangkan kepentingan nasionalnya. Namun, kekuatan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh besarnya militer, melainkan juga oleh ekonomi, sumber daya alam, teknologi, kualitas pemerintahan, moral bangsa, serta kemampuan berdiplomasi. Sementara itu, Nye memperkenalkan konsep soft power dan smart power, yakni kemampuan sebuah negara memengaruhi negara lain melalui daya tarik, inovasi, budaya, teknologi, reputasi, dan kepercayaan, bukan semata-mata melalui tekanan militer atau ekonomi.

Dalam dunia yang semakin saling terhubung, kekuatan nasional tidak lagi hanya diukur dari besarnya produk domestik bruto (PDB) atau jumlah persenjataan, tetapi juga dari kemampuan membangun jaringan kemitraan yang produktif dan saling menguntungkan. Negara yang mampu berkolaborasi akan memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan negara yang berjalan sendiri.

Di sinilah kemitraan Indonesia–India menemukan relevansinya. Indonesia memiliki keunggulan pada sumber daya alam strategis, posisi geopolitik, dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. India unggul dalam teknologi informasi, ekonomi digital, farmasi, inovasi, serta bonus demografi. Keunggulan tersebut bukan untuk dipertandingkan, melainkan dipadukan. Kolaborasi dalam investasi, transfer teknologi, kecerdasan buatan, industri digital, pertahanan, pendidikan, dan ekonomi maritim akan menciptakan nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan jika kedua negara berjalan sendiri-sendiri.

Pada akhirnya, hubungan Indonesia–India tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah atau besarnya nilai perdagangan. Kemitraan sejati adalah kemitraan yang memperkuat daya saing kedua bangsa, memperluas pengaruh diplomasi di kawasan Indo-Pasifik, serta menghadirkan manfaat yang nyata bagi kesejahteraan rakyat di kedua negara. Itulah makna sesungguhnya dari kemitraan strategis yang saling menguntungkan.

India bukan hanya pasar yang sangat besar, tetapi juga mitra yang dapat mempercepat transformasi digital Indonesia. Sebaliknya, Indonesia dapat menjadi pintu masuk India menuju ASEAN, pusat hilirisasi mineral strategis dunia, serta mitra penting dalam ketahanan energi, ketahanan pangan, ekonomi maritim, dan rantai pasok Indo-Pasifik.

Hubungan yang saling menguntungkan (mutually beneficial partnership) inilah yang perlu menjadi arah baru hubungan Indonesia–India. Kedua negara tidak boleh lagi hanya berbangga dengan sejarah panjang atau angka perdagangan yang terus meningkat. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana membangun nilai tambah bersama, menciptakan inovasi bersama, dan membentuk pusat pertumbuhan baru Asia yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi stabilitas dan kemakmuran dunia.

Kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimilikinya hari ini, tetapi oleh siapa yang dipilihnya untuk berjalan bersama menghadapi masa depan. Indonesia dan India telah berbagi sejarah selama ribuan tahun. Kini, kedua negara memiliki kesempatan untuk berbagi masa depan.

Jika abad ke-20 adalah abad hubungan diplomatik Indonesia–India, maka abad ke-21 harus menjadi abad kemitraan strategis Indonesia–India, kemitraan yang tidak hanya dibangun atas dasar romantisme sejarah, melainkan atas visi bersama untuk menjadi dua kekuatan demokrasi, ekonomi, teknologi, dan diplomasi yang menentukan arah Asia dan dunia.

*Primus Dorimulu adalah CEO Investortrust.id

Artikel ini juga tayanh di vritimes