India Siapkan Rp5,39 Triliun untuk Perkuat Industri Pengolahan Mineral Kritis

FOX News
4 Nov 2026 13:16
Bisnis 0 9
5 menit membaca

JAKARTA — Pemerintah India menyetujui alokasi anggaran sebesar 2.814 crore rupee atau sekitar Rp5,39 triliun untuk memperkuat industri pengolahan mineral kritis dalam negeri. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya India mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan mineral olahan sekaligus membangun rantai pasok yang lebih mandiri untuk mendukung industri teknologi masa depan.

Persetujuan tersebut diberikan oleh Kabinet Uni India yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi pada Rabu (4/11/2026) melalui program bertajuk Capex Support Scheme to Promote Critical Mineral Processing. Program ini akan berlangsung selama lima tahun, mulai tahun fiskal 2026–2027 hingga 2030–2031.

Melalui skema tersebut, pemerintah akan memberikan dukungan belanja modal berupa subsidi sebesar 30 persen dari investasi yang memenuhi persyaratan untuk pembangunan empat fasilitas pengolahan mineral kritis. Fasilitas tersebut terdiri atas dua pabrik pengolahan litium dan dua pabrik pengolahan nikel.

Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan mineral di dalam negeri, menciptakan nilai tambah industri, serta memperkuat ketahanan rantai pasok India di tengah meningkatnya kebutuhan bahan baku untuk kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi, elektronik, hingga sektor pertahanan.

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui akun media sosial X, Perdana Menteri Narendra Modi menegaskan bahwa India tidak seharusnya terus bergantung pada negara lain untuk mengolah mineral penting yang menjadi fondasi teknologi masa depan.

Empat Fasilitas Pengolahan Mineral Akan Dibangun

Salah satu fokus utama program ini adalah meningkatkan kapasitas pengolahan litium dan nikel menjadi senyawa dengan tingkat kemurnian tinggi (high-purity compounds). Kedua mineral tersebut memiliki peran penting dalam berbagai industri strategis, terutama produksi baterai dan teknologi energi bersih.

Berdasarkan skema yang disetujui, pemerintah India menargetkan pembangunan dua fasilitas pengolahan litium dengan kapasitas minimum masing-masing 30.000 ton serta dua fasilitas pengolahan nikel dengan kapasitas minimum masing-masing 50.000 ton.

Untuk mendukung pembangunan fasilitas tersebut, pemerintah menyediakan batas maksimal bantuan modal sebesar 500 crore rupee atau sekitar Rp957,8 miliar untuk setiap penerima manfaat di sektor pengolahan litium. Sementara itu, penerima manfaat di sektor pengolahan nikel dapat memperoleh dukungan hingga 900 crore rupee atau sekitar Rp1,72 triliun.

Secara keseluruhan, subsidi akan diberikan berdasarkan 30 persen dari nilai investasi yang memenuhi persyaratan, dengan batas maksimum sesuai kategori mineral masing-masing.

Selain litium dan nikel, program ini juga membuka peluang pemulihan kobalt sebagai produk sampingan dari proses produksi nikel. Kobalt merupakan salah satu bahan penting dalam industri baterai dan berbagai aplikasi teknologi lainnya.

Kurangi Ketergantungan Impor dan Perkuat Rantai Pasok

Pengembangan industri pengolahan mineral kritis menjadi perhatian pemerintah India karena kapasitas pemrosesan global saat ini masih terkonsentrasi di sejumlah kecil wilayah dan negara. Kondisi tersebut membuat rantai pasok rentan terhadap gangguan geopolitik, fluktuasi harga, serta pembatasan ekspor bahan baku.

India sendiri masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap impor produk mineral olahan dan material dengan tingkat kemurnian tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh masih terbatasnya infrastruktur pengolahan dan pemurnian mineral dalam negeri, termasuk untuk litium, nikel, dan kobalt.

Pengembangan fasilitas pengolahan berskala komersial juga menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kebutuhan investasi yang besar, keterbatasan akses terhadap teknologi yang sesuai, hingga ketersediaan bahan baku.

Melalui program ini, pemerintah berupaya mengatasi hambatan tersebut dengan memberikan insentif investasi sekaligus mendorong keterlibatan pelaku industri dalam membangun kapasitas pengolahan domestik.

Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri, menggantikan sebagian kebutuhan impor, serta membangun rantai pasok yang lebih terintegrasi dari tahap pengolahan hingga pemanfaatan akhir.

Dukung Kendaraan Listrik, Baterai, dan Industri Pertahanan

Penguatan industri pengolahan mineral kritis juga memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan sejumlah sektor strategis India. Litium, nikel, dan kobalt merupakan bahan penting dalam ekosistem produksi baterai, termasuk untuk kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi.

Dalam sektor kendaraan listrik, ketersediaan bahan baku baterai yang stabil menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung pengembangan industri dan memperluas kapasitas produksi. Sementara itu, sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) semakin dibutuhkan untuk mendukung pengelolaan dan penyimpanan energi.

Selain energi dan mobilitas listrik, mineral kritis juga dibutuhkan dalam industri elektronik, baja khusus (speciality steel), serta teknologi pertahanan.

Dengan meningkatkan kemampuan pengolahan di dalam negeri, India berupaya membangun fondasi industri yang lebih kuat untuk memenuhi kebutuhan berbagai sektor tersebut sekaligus mengurangi kerentanan terhadap perubahan kondisi pasar global.

Seleksi Penerima Subsidi Dilakukan dalam Dua Tahap

Dalam pelaksanaannya, pemerintah India akan memilih perusahaan penerima manfaat melalui proses seleksi dua tahap. Tahap pertama mencakup penilaian kualifikasi teknis untuk memastikan calon penerima memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.

Perusahaan yang lolos penilaian teknis kemudian dapat mengikuti tahap kedua, yaitu proses penawaran finansial. Untuk masing-masing jenis mineral, pemerintah akan memilih dua penerima manfaat berdasarkan kriteria biaya terendah (least-cost criterion), yakni perusahaan yang mengajukan kebutuhan dukungan belanja modal paling rendah.

Penyaluran insentif juga akan dilakukan dalam tiga tahap berdasarkan pencapaian target dan tonggak pelaksanaan (milestones) yang telah ditetapkan.

Pemerintah India menilai skema ini sebagai langkah penting dalam mewujudkan visi Atmanirbhar Bharat atau India Mandiri, khususnya melalui pembangunan infrastruktur pengolahan domestik yang tangguh dan peningkatan kemampuan nasional di seluruh rantai nilai mineral kritis.

Melalui investasi tersebut, India tidak hanya berupaya memperkuat ketahanan pasokan bahan baku strategis, tetapi juga meningkatkan kapasitas industrinya untuk bersaing dalam pengembangan teknologi masa depan.

Artikel ini juga tayanh di vritimes