Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berpotensi melanjutkan pelemahan pada pekan depan setelah gagal menembus zona resistance US$93,15–US$94,72. Berdasarkan analisis Dupoin Futures, penolakan harga di area tersebut membuka peluang bagi minyak untuk bergerak turun menuju support US$88,61–US$86,82. Secara teknikal, pergerakan ini berpotensi membentuk pola ABC Correction yang mendukung skenario koreksi lanjutan.
Geraldo Kofit, analis Dupoin Futures, menjelaskan bahwa kegagalan WTI melewati resistance menunjukkan tekanan jual masih perlu diperhatikan. Pada timeframe Daily, harga membentuk rejection setelah mencoba menembus area US$93,15–US$94,72. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa momentum kenaikan belum cukup kuat untuk mengonfirmasi perubahan arah tren.
Menurut analisis Dupoin Futures, zona resistance tersebut akan menjadi salah satu level kunci untuk menentukan arah WTI pada pekan depan. Apabila harga kembali menguji resistance tetapi gagal menembusnya, peluang penurunan menuju US$88,61–US$86,82 masih terbuka. Sebaliknya, jika WTI mampu menembus dan bertahan di atas resistance, skenario bearish yang dipantau Dupoin Futures perlu ditinjau kembali.
Pola ABC Correction yang berpotensi terbentuk mencerminkan kemungkinan berlanjutnya fase koreksi setelah harga mengalami pergerakan naik sebelumnya. Dalam skenario ini, Dupoin Futures melihat zona US$88,61–US$86,82 sebagai area support yang perlu diperhatikan. Reaksi harga ketika mencapai zona tersebut akan membantu menunjukkan apakah tekanan jual masih dominan atau mulai mereda.
Dari sisi fundamental, prospek pemulihan pasokan minyak global dapat menjadi faktor yang membatasi kenaikan harga. Apabila distribusi energi dari Timur Tengah kembali berjalan lebih normal dan arus ekspor meningkat, kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan berpotensi berkurang. Kondisi tersebut dapat mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak.
Namun, Dupoin Futures menilai risiko gangguan pasokan masih menjadi faktor yang dapat meningkatkan volatilitas WTI. Serangan terhadap kapal tanker dan ketidakpastian pengiriman melalui Selat Hormuz berpotensi menghambat distribusi minyak mentah. Jika gangguan kembali meningkat, harga minyak dapat mengalami rebound meskipun struktur teknikal masih menunjukkan risiko penurunan.
Perkembangan terbaru memperlihatkan bagaimana sentimen geopolitik dapat mengubah arah harga dalam waktu singkat. Reuters melaporkan pada Jumat, 9 Oktober 2026, bahwa harga WTI turun sekitar US$0,52 menjadi US$90,97 per barel setelah komentar Presiden AS Donald Trump mengenai kemungkinan pembicaraan dengan Iran meredakan sebagian kekhawatiran terhadap gangguan pasokan. Namun, risiko tetap ada karena situasi di Timur Tengah belum sepenuhnya stabil dan ancaman terhadap distribusi energi masih menjadi perhatian pasar.
Selain faktor geopolitik, potensi pemulihan pasokan dan perkembangan produksi minyak juga akan memengaruhi keseimbangan pasar. Reuters mencatat bahwa ancaman badai di Teluk Meksiko turut mengganggu produksi minyak lepas pantai AS, sehingga menambah ketidakpastian terhadap pasokan jangka pendek. Faktor tersebut dapat menahan penurunan harga meskipun tekanan jual muncul dari meredanya kekhawatiran konflik.
Geraldo Kofit dari Dupoin Futures menilai bahwa pelaku pasar perlu mengamati perkembangan pasokan global bersamaan dengan respons harga terhadap resistance utama. Jika WTI tetap gagal menembus US$93,15–US$94,72, peluang koreksi menuju US$88,61–US$86,82 masih terbuka. Namun, peningkatan risiko gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga dan membuat pergerakan minyak lebih volatil.
Dengan demikian, prediksi harga WTI pekan depan menurut analisis Dupoin Futures masih cenderung bearish selama harga belum berhasil menembus resistance US$93,15–US$94,72. Target penurunan berada di zona US$88,61–US$86,82, dengan pola ABC Correction sebagai salah satu skenario teknikal yang perlu dicermati.
Meski demikian, Dupoin Futures mengingatkan bahwa perkembangan geopolitik, pemulihan pasokan, serta kondisi distribusi energi dapat mengubah sentimen pasar. Karena itu, konfirmasi pergerakan harga tetap diperlukan sebelum menentukan apakah tekanan jual akan berlanjut atau digantikan oleh rebound.
Artikel ini juga tayanh di vritimes