Menggeliat Lewat Rel Kereta: Menakar Wajah Baru Pariwisata dan Ekonomi Kebumen

FOX News
15 Sep 2026 09:33
Bisnis 0 11
4 menit membaca

Peningkatan pergerakan wisatawan domestik di Kebumen juga berbanding lurus dengan lompatan pengakuan atas bentang alamnya. Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kebumen mencatat angka kunjungan wisatawan domestik terus menanjak, dengan total kunjungan menembus lebih dari 600.000 hingga 1 juta pengunjung ke berbagai objek wisata daerah setiap tahunnya.

KEBUMEN — Deru lokomotif yang melintasi jalur ganda lintas selatan Jawa kini membawa dinamika baru bagi Kabupaten Kebumen. Daerah yang dahulu kerap diposisikan sekadar perlintasan transit antara Daerah Istimewa Yogyakarta dan Purwokerto ini mulai memantapkan posisinya sebagai destinasi mandiri dalam peta pariwisata Jawa Tengah. Transformasi ini didorong oleh integrasi moda transportasi kereta api, penetapan status kawasan sebagai taman bumi dunia, serta pergeseran preferensi pelancong menuju konsep slow travel dan liburan singkat (short staycation). 

 Konektivitas langsung tanpa hambatan jalan raya memberi kemudahan bagi pelancong kota-kota besar untuk merancang perjalanan berdurasi ringkas. Keberadaan infrastruktur akomodasi seperti Mexolie Hotel—yang menempati kompleks cagar budaya bekas pabrik minyak kelapa era kolonial persis di sisi timur Stasiun Kebumen—menjadi katalis bagi tren perjalanan 24 jam: tiba dengan kereta, beristirahat leluasa, menjelajah denyut kota, lalu kembali tanpa risiko kemacetan antarkota.

Kereta Api Jadi Akselerator Mobilitas

Berdasarkan data operasional PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 5 Purwokerto, tren volume penumpang kereta api antarkota menunjukkan peningkatan yang konsisten, mencatatkan pertumbuhan penumpang lebih dari 14 persen secara tahunan (year-on-year). Pada masa-masa angkutan liburan nasional, Stasiun Kebumen dan Stasiun Gombong tercatat konsisten melayani puluhan ribu pergerakan penumpang datang dan berangkat.

Peningkatan ketepatan waktu (on-time performance), modernisasi sarana, serta kemudahan reservasi digital dinilai menjadi alasan utama tingginya preferensi wisatawan menggunakan jalur rel. 

“Keandalan operasional, ketepatan waktu, dan kemudahan akses stasiun menjadi faktor penentu meningkatnya loyalitas masyarakat menggunakan kereta api. Peningkatan volume penumpang di stasiun-stasiun seperti Kebumen memperlihatkan bahwa konektivitas rel memegang peran vital dalam membuka akses perekonomian dan pariwisata daerah,” tulis evaluasi operasional PT KAI Daop 5 Purwokerto.

 Bagi pelancong berdurasi 24 jam, stasiun berfungsi sebagai simpul logistik yang presisi. Akses stasiun yang langsung terhubung dengan area penginapan memangkas ongkos transfer dan keletihan fisik perjalanan, sehingga waktu pelesir dapat dimaksimalkan sejak jam pertama kedatangan.

Daya Tarik Alam Berstandar Dunia dan Munculnya Destinasi Baru

Peningkatan pergerakan wisatawan domestik di Kebumen juga berbanding lurus dengan lompatan pengakuan atas bentang alamnya. Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kebumen mencatat angka kunjungan wisatawan domestik terus menanjak, dengan total kunjungan menembus lebih dari 600.000 hingga 1 juta pengunjung ke berbagai objek wisata daerah setiap tahunnya.

Tonggak capaian terbesar terjadi seiring ditetapkannya Geopark Kebumen ke dalam jaringan UNESCO Global Geoparks (UGGp). Meliputi 22 kecamatan dan 374 desa, kawasan bertajuk “The Mother of Earth” ini memadukan lebih dari 40 situs geologi purba, keanekaragaman hayati, dan kekayaan budaya:

Pesisir Selatan Bertebing Kapur: Pantai Menganti dengan panorama tebing karst dan pasir putih, Pantai Karangbolong, hingga Pantai Mliwis.

Keajaiban Karst Bawah Tanah: Goa Jatijajar dan Goa Petruk yang menyuguhkan formasi stalaktit eksotis serta legenda pewayangan lokal.

Laboratorium Geologi Terbuka: Singkapan batuan dasar samudera purba di kawasan Karangsambung.

Meski demikian, para pengamat perjalanan menyarankan segmentasi logistik yang realistis bagi pelancong.

“Kunjungan 24 jam paling efektif bila difokuskan pada ritme pusat kota, eksplorasi kuliner lokal, dan wisata heritage. Untuk destinasi alam seperti Pantai Menganti atau Goa Jatijajar yang memerlukan waktu tempuh 1 hingga 1,5 jam dari pusat kota, opsi terbaik adalah menambah minimal satu malam inap agar agenda tidak terburu-buru dan terhindar dari risiko tertinggal kereta,” papar catatan kurasi panduan perjalanan lokal Kebumen. 

Multiplier Effect Ekonomi dan Ekosistem UMKM

Geliat pariwisata ini secara nyata mendongkrak denyut ekonomi kerakyatan dan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Peningkatan lama tinggal wisatawan (length of stay) serta tingginya tingkat hunian kamar (occupancy rate) hotel pada periode akhir pekan dan libur panjang menggerakkan rantai nilai sektor jasa.

Dampak berganda (multiplier effect) terlihat pada sektor-sektor penunjang:

Rantai Pasok Kuliner Tradisional: Permintaan harian terhadap kuliner khas seperti Nasi Penggel, Sate Ambal berlumur bumbu kedelai, pecel kangkung, hingga industri rumahan Lanthing Kebumen mengalami lonjakan penjualan berkala. 

Jasa Transportasi & Pemandu: Tumbuhnya ekosistem sewa kendaraan pribadi, sopir lokal berlisensi, hingga komunitas tour guide geopark.

Ekonomi Kreatif Pedesaan: Pengembangan desa-desa wisata berbasis komunitas (Pokdarwis) di sekitar geosite yang membuka lapangan kerja baru bagi generasi muda daerah.

“Pariwisata berbasis geopark bukan sekadar pelestarian alam, tetapi lokomotif pembangunan ekonomi inklusif. Setiap kunjungan wisatawan domestik menghasilkan perputaran uang langsung ke pelaku usaha mikro, perhotelan, hingga pedagang pasar tradisional,” terang pejabat Pemkab Kebumen dalam tinjauan pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Sinergi antara ketepatan waktu moda rel kereta api, preservasi peninggalan bersejarah di pusat kota, dan kekayaan geologi kelas dunia membuktikan bahwa Kebumen bukan lagi sekadar lintasan, melainkan destinasi yang hidup dan menggerakkan roda ekonomi masyarakatnya.

Artikel ini juga tayanh di vritimes